BANDAR LAMPUNG, FraksiGerindra.id — Anggota Komisi VI DPR RI, Kawendra Lukistian, menyoroti besarnya keuntungan yang diraih platform over the top (OTT) global serta fenomena drama China vertikal (dracin) di Indonesia. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar besar tanpa memperoleh manfaat yang seimbang bagi pembangunan infrastruktur digital nasional. Menurut Kawendra, perusahaan seperti Telkom Indonesia masih menjadi pihak yang menanggung sebagian besar biaya pembangunan jaringan internet, sementara platform digital global menikmati pertumbuhan pasar Indonesia tanpa kontribusi yang jelas. “Ada beberapa hal yang saya tanyakan, kita menggelontorkan Rp120 triliun untuk jaringan kita sementara OTT global mendapat sekitar Rp45 triliun tapi kontribusinya tidak jelas,” kata Kawendra dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI di Bandar Lampung, Sabtu (11/4/2026). Ia menilai Indonesia perlu segera mengadopsi model fair share seperti yang telah diterapkan di Korea Selatan dan mulai dikembangkan di India. Skema ini mewajibkan platform OTT seperti Netflix, YouTube, TikTok, dan layanan digital lainnya untuk turut berkontribusi terhadap biaya infrastruktur jaringan, baik melalui mekanisme berbasis trafik maupun pembagian pendapatan. Di Korea Selatan, model fair share diterapkan berdasarkan volume trafik yang dihasilkan platform digital, sementara India tengah mengembangkan skema berbagi pendapatan antara OTT dan operator telekomunikasi. Hingga saat ini, Indonesia dinilai belum memiliki …
Related Posts
-
Politik
Komisi II DPR RI Tinjau Perlindungan Lahan Sawah Produktif di Sukoharjo
-
Politik
Putih Sari Soroti Tingginya Kasus TB dan HIV/AIDS di Kupang
-
Politik
Kawendra: Semangat Berdikari Jadi Arah Baru Kebijakan Ekonomi Nasional
-
Politik
Timwas Haji DPR RI Usulkan Skema Asuransi Kesehatan Haji Lebih Cepat dan Fleksibel