JAKARTA, FraksiGerindra.id — Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek di sektor moneter. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah merupakan konsekuensi dari struktur ekonomi nasional yang selama dua dekade terakhir masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap pembiayaan luar negeri berbasis valuta asing (valas). Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut tercermin dari neraca transaksi berjalan Indonesia yang dalam jangka panjang lebih sering mengalami defisit. Karena itu, diperlukan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mata uang asing lainnya guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional. “Tekanan rupiah hari ini memang disebabkan oleh struktur ekonomi kita dalam kurun dua dekade terakhir yang lebih ditopang pada pinjaman luar negeri berbasis valas. Itu terlihat dari neraca transaksi berjalan kita yang lebih sering mengalami defisit,” ujar Kamrussamad, Kamis (4/6/2026). Kamrussamad menilai salah satu langkah yang dapat segera dioptimalkan adalah penguatan skema Local Currency Settlement (LCS) yang sebelumnya telah disepakati Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang, seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, dan negara lainnya. Menurut Kamrussamad, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sehingga kebutuhan devisa untuk transaksi internasional dapat ditekan dan stabilitas nilai tukar rupiah lebih terjaga. “Yang …
Related Posts
-
Politik
Rahayu Saraswati Buka Opsi Perubahan Nomenklatur RUU Desain Industri agar Lebih Mudah Dipahami Publik
-
Politik
Sufmi Dasco: Komisi II DPR Siap Bahas Revisi UU Pemilu dengan Libatkan Partisipasi Publik
-
Politik
Endang Setyawati Soroti Minimnya Anggaran Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Minta KKP Pastikan Kesejahteraan Nelayan Tetap Terjaga
-
Politik
Bambang Haryo Apresiasi Layanan Haji 2026, Jemaah Reguler Rasakan Fasilitas Setara Hotel Bintang Lima