Mengaku Perwira Polda Jatim, Dua Pria ini Tipu Pengusaha Asal Gresik

  • Whatsapp

Surabaya – Hanya karena ingin mengeruk keuntungan yang banyak, dua pria nekat menipu pengusaha dengan mengaku sebagai Perwira polisi. Akibatnya, dua pelaku bernama Stefanus warga Jakarta dan Heri Irawan warga Purwakarta Ini diringkas anggota Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim.
Kompol Harianto KANIT sub cyber Crime Polda Jatim mengatakan bahwa pelaku bernama Heri Irawan berpura-pura sebagai AKBP Arman Asmara yang menjabat sebagai Wadireskrimsus sedangkan Stefanus mengaku sebagai polisi berpangkat Kompol “Modus yang dilakukan pelaku dengan cara menghubungi pengusaha-pengusaha, pelaku sebagai Wadireskrimsus Polda Jawa Timur, Bapak AKBP Arman Asmara,” papar Harianto, Kamis (15/8).

Haroanto menambahkan kepada korbannya yang notabene seorang pengusaha, kedua tersangka menawarkan barang berupa tembaga dalam jumlah banyak senilai Rp 285 juta. Tawaran itu disampaikan melalui pesan WhatsApp.

Karena mengira tawaran tersebut datang langsung dari perwira polisi. korban bernama Rianto, pengusaha asal Gresik pun akhirnya menerima dan sepakat membeli barang yang ditawarkan pelaku. “Dan setelah disepakati harga itu, pelaku menyuruh korban untuk mentransfer awal atau DP sebesar Rp 47 juta,” lanjut Harianto.

Korban yang membeli barang tersebut akhirnya mentransfer sejumlah uang kepada pelaku. Uangpun dikirim sebanyak duabkali .Namun, usai korban mentransfer uang ke rekening pelaku, barang yang dijanjikan tak jua dikirim. Nomor yang dipakai berkomunikasi sebelumnya juga tak bisa dihubungi. Selanjutnya, korban melapor peristiwa yang dialami tersebut kepada polisi.

Tak butuh waktu lama, keduanya kemudian berhasil diamankan anggota Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim.
Dari tangan tersangka, petugas mendapatkan barang bukti hasil kejahatan mereka. Yakni, uang tunai Rp 1 juta, beberapa rekening koran milik tersangka dan sejumlah handphone.

Karena perbuatannya pelaku dilenakan Pasal 28 dan 45a Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang transaksi elektronik, dengan ancaman hukuman selama enam tahun penjara dan denda sebesar satu miliar rupiah. (zam)

Pos terkait

loading...