Sabtu, 22 Juni 2019 - 11:49 WIB

PAPER SPA : Paket Permainan Stimulator Perkembangan Anak

Blitar.deliknews – Paper SPA (Paket Permainan Stimulator Perkembangan Anak) adalah suatu upaya program untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak gabungan dari satu set alat permainan edukatif yang dapat meningkatkan peran ibu dalam mencegah kecanduan gadget pada anak batita (bawah tiga tahun) yang sudah dilengkapi dengan buku panduannya sehingga memudahkan ibu untuk mencontohkan langkah dan cara penggunaan paket permainan tersebut pada anaknya saat dirumah. Paket alat permainan ini menggunakan prinsip sesuai dengan target tugas dan stimulasi perkembangan anak usia 2-3 tahun dalam pencapaian gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian menurut Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK) Kemenkes RI (2016) dan Kurikulum STPPA PAUD (2013) (Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Pendidikan Anak Usia Dini).

Program ini juga menggabungkan prinsip metode pendidikan anak dari teori Montessori dengan menggunakan alat alas kerja, tray atau nampan, dan rak. Program ini sendiri difokuskan pada anak usia 2-3 tahun dimana usia pertama anak boleh terpapar dengan gadget. Paper SPA ini berisi alat-alat permainan yang disesuaikan dengan tugas perkembangan anak pada usia 2-3 tahun. Program Paper SPA ini mulai dijalankan oleh tim PKM-M Poltekkes RS. dr. Soepraoen pada pertengahan bulan maret sampai akhir bulan mei, yang dimulai dari persiapan program itu sendiri sampai monitoring door to door yang dilakukan pada target sasaran di desa Clumprit, kecamatan Pagelaran, Malang.

Sasaran dari program ini yaitu di Desa Clumrit, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang yang merupakan salah satu desa wilayah binaan dari Puskesmas Pagelaran. Memiliki 6 posyandu yaitu Posyandu Teratai 1-6 dengan jumlah balita total 346 anak. Program pengabdian masyarakat Paper SPA ini akan diterapkan pada Posyandu Teratai 1 dan Teratai 4 yang membawahi RT 1-7 dengan sasaran ibu yang memiliki anak usia 2-3 tahun di RT 1-3 dan RT 4-7, fenomena anak 2-3 tahun bermain gadget merupakan hal yang umum. Bermain gadget menjadi menyatu dalam kegiatan sehari-hari anak. Orang tua mengizinkan anaknya menggunakan gadget agar anak sibuk dan tidak rewel sehingga orang tua khususnya ibu bisa melakukan hal lain seperti pekerjaan rumah tangga tanpa gangguan dari anak. Anak sering dibiarkan bermain gadget tanpa ditemani dan diawasi dengan waktu lebih dari yang dianjurkan yaitu > 1 jam. Hal yang sering dilakukan anak di gadget adalah membuka video di youtube dan bermain game.

Program Paper SPA ini perlu diadakan karena Penggunaan media sosial dan digital menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia. Generasi yang lahir pada tahun 2001-sekarang merupakan generasi digital citizenship. Mereka terlahir di era teknologi dimana gadget seperti smartphone dan tablet sudah menjadi kawan sehari-hari. Perubahan struktur media di Indonesia, terutama dengan meningkatnya penggunaan ponsel, telah mengubah akses dan penggunaan media digital internet di kalangan anak dan remaja yang cenderung menggunakan semua-ponsel atau smartphone selama kegiatan sehari-hari. Tidak mengherankan bila kita melihat anak balita sekarang sudah mahir menggunakan tablet atau smartphone untuk menonton kartun ataupun lagu kesayangannya. Sedangkan anak yang lebih besar, sudah lebih canggih lagi memanfaatkan gadget-gadget tersebut untuk bermain game (Kominfo RI, 2014 dan theAsianparent Indonesia, 2018). Setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet dan media digital (Kominfo RI, 2014). Berdasarkan hasil survei tahun 2014 pada 2.500 orang tua di Asia Tenggara, 98% orang tua memperbolehkan anaknya menggunakan smartphone/tablet (67% menggunakan gadget milik orang tuanya, 18% berbagi dengan gadget keluarga, 14% gadget dengaan kepemilikan sendiri). Alasan ijin penggunaan gadget yaitu 80% pendidikan, 68% pengenalan teknologi, 57% hiburan, dan 55% membuat anak sibuk (theAsianparent Indonesia, 2018).

Akademi Dokter Anak Amerika merekomendasikan bahwa anak umur 0-2 tahun seharusnya tidak boleh terpapar teknologi termasuk gadget sama sekali. Anak umur 3-5 tahun dibatasi hanya satu jam per hari dan anak umur 6-18 tahun dibatasi 2 jam saja per hari (American Academy of Pediatrics, 2016). Namun fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan hal yang berbeda, banyak anak-anak di bawah 2 tahun sudah terpapar gadget dan waktu penggunaannya melebihi batas waktu yang direkomendasikan. Hasil survei tahun 2014 terhadap 2.500 orang tua di Asia Tenggara menunjukkan 41% anak memainkan gadget sekali duduk > 1 jam. Untuk tempat penggunaannya 99% di rumah, 71% saat bepergian, dan 70% di rumah makan. Harapan orang tua 85% penggunan gadget adalah untuk aplikasi buku, 81% aplikasi pendidikan, 62% video, 50% aplikasi terkenal, 29% aplikasi hiburan. Namun kenyataan pengunaannya oleh anak adalah lebih banyak untuk bermain game (72%) dan video (60%). Sedangkan aplikasi pendidikan sebesar 57% dan aplikasi buku 14% (theAsianparent Indonesia, 2018).

Menggunakan gadget melebihi batas waktu yang dianjurkan pada anak-anak memiliki banyak dampak negatif. Penggunaan gadget berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan otak anak. Stimulasi berlebih dari gadget (hp, internet, tablet, televisi, dll) pada otak anak sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan koginitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, kurang tidur, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri. Paparan teknologi sejak dini juga memengaruhi kemampuan literasi dan prestasi akademik anak secara negatif. Penggunaan gadget juga membatasi gerak fisik anak sehingga berisiko obesitas. Penggunaan gadget pada anak dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, kurang atensi, autisme, kelainan bipolar, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya. Konten di media yang bisa diakses anak, dapat menimbulkan sifat agresif pada anak. Kekerasan fisik dan seksual banyak tersebar di internet, dan jika tidak dilakukan pengawasan, anak bisa terpapar itu semua. Sehingga memicu timbulnya perilaku agresif dan cenderung menyerang orang lain pada anak (theAsianparent Indonesia, 2018).

Ketika orangtua khususnya ibu sebagai pemegang peran utama dalam stimulasi perkembangan anak terlalu bergantung pada teknologi, mereka akan semakin jauh dari anak. Untuk mengisi kekosongan ikatan dengan orangtua, anak juga mulai mencari penghiburan dari gadget, yang pada akhirnya membuat mereka kecanduan teknologi, dan tidak bisa lepas darinya. Ibu lupa bahwa seharusnya dirinyalah yang seharusnya menjadi kawan terpenting anak saat bermain untuk menstimulasi perkembangan anak agar optimal dan normal sesuai usianya, bukan gadget. Ibu seharusnya membatasi penggunaan gadget sesuai usia anak, harus menyiapkan kegiatan alternatif lain agar anak tidak bosan dan beralih ke gadget lagi, tidak memberikan akses gadget penuh, menetapkan wilayah-wilayah bebas gadget, mengajarkan anak pentingnya menahan diri untuk tidak bermain game dan memberikan pujian jika anak berhasil menahan diri, dan yang terpenting memberikan contoh yang baik dengan meletakkan HP serta bermain dengan anak (Kemenkes RI, 2016 dan theAsianparent Indonesia, 2018).

Cara penggunaan program Paper SPA (Paket Permainan Stimulator Perkembangan Anak) ini terdiri dari, berbagai cara penggunaan permainan edukatif, dan semua cara penggunaan permainan edukatif tersebut, sudah dicantumkan pada buku panduan Paper SPA. Didalam buku panduan tersebut mencakup penjelasan dari program Paper SPA itu sendiri, dan bagaimana cara penggunaan dari program Paper SPA tersebut, yang terdiri dari permainan antara lain dibawah ini:
1. Menendang bola
2. Menyusun puzzle sederhana
3. Menyusun balok
4. Menggunting kertas
5. Menggambar
6. Mencocokkan gambar
7. Mengelompokkan benda padat
8. Menempelkan gambar
10. Kertas dan pom-pom
11. Melipat sapu tangan
12. Puzzle bola
13. Membaca buku cerita
14. Menyendok benda padat dan benda cair.(*)

Artikel ini telah dibaca 3847 kali

loading...
Baca Lainnya

Permudah Layanan Paspor , Kantor Imigrasi Buka ULP Di BG Juntion

SURABAYA – Warga Surabaya kini benar benar dimanjakan oleh Imigrasi. Saat ini masyarakat yang akan...

16 Oktober 2019, 15:20 WIB

Maraknya Judi Stasiun Wonokromo, KAI Berjanji Akan Lakukan Gebrakan Selama 1 Bulan

Surabaya – Stasiun Wonokromo nampaknya menjadi surga para pejudi dan pelaku prostitusi kelas teri. Setiap...

15 Oktober 2019, 07:57 WIB

Simpan Sabu Pemuda Donowati Dituntut 6 Tahun Penjara

SURABAYA – Eko Siswanto alias Ajis (35) terdakwa narkoba asal Donowati,IV Surabaya akhirnya dituntut 6...

15 Oktober 2019, 00:37 WIB

Simpan Narkoba Di Dalam Bra, Gadis Asal Lamongan Jadi Terdakwa, Diancam 12 Tahun Penjara

SURABAYA – Hanya karena menyimpan sabu sabuvfalam bra gadis mungil asal Lamongan Novita Yulia Ningsih...

15 Oktober 2019, 00:18 WIB

Dr.Muhammad Dofir SH.MH Pimpin Kejaksaan Tinggi JawaTimur

SURABAYA – Rotasi pimpinan di Kejaksaan Tinggj Jawa Timur akhirnya bergulir. Dr Sunarta SH., MH...

14 Oktober 2019, 23:46 WIB

Hindari Politik Uang, Bupati Blitar Ajak Deklarasi Damai

Blitar.deliknews – Terkait Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang bakal digelar 15 Oktober 2019 mendatang...

Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Suwito Saren Satoto. (foto/Bang Jun)

10 Oktober 2019, 18:01 WIB

loading...