Jawa Timur

Jumat, 31 Mei 2019 - 20:54 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Awali Peringatan Lahirnya Pancasila, Pemkot Blitar Gelar Bedhol Pusaka

Blitar.deliknews – Peringatan Hari Lahirnya Pancasila atau Bulan Bung Karno, Pemkot Blitar mengawali dengan diselenggarakan dengan acara Bedhol Pusaka. Meski bulan Ramadhan, acara berlangsung meriah dan khimat.

Dimuali dari rumah dinas Wali Kota Blitar, iring – iringan kirab berjalan sepanjang sekitar 3 kilometer menuju kantor Wali Kota Blitar sambil membawa simbol – simbul nagari (Negara) seperti Burung Garuda, Teks Pancasila, UUD dan Bendera Merah Putih.

Selain itu, ada 5 gunungan besar dan 50 gunungan kecil -kecil yang terbuat dari sayur –sayuran, buah – buahan dan hasil bumi dikandung maksut melambangkan sumber kemakmuran.

Biasanya, hal yang menarik dari prosesi tersebut, bahwa dengan berebut Gunungan itu dipercaya membawa rezeki atau berkah bagi sebagain orang yang masih memang teguh kultus tersebut.

Sesampai di kantor Wali Kota, benda – benda atau simbol nagari itu diserahkan langsung oleh Sekretaris Daerah, Drs. Rudi Wijonarko Msi. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan tirakatan.Lalu, malam harinya diadakan upacara Grebeg Pancasila di Alun-alun Kota Blitar.

“Kirab Bedhol Pusaka merupakan rangkaian awal acara Grebeg Pancasila. Prosesi tersebut merupkan untuk memperingati Lahirnya Pancasila yang jatuh pada 1 Juni,” ungkap Rudi, Jumat (31/5/2019) sore, usai acara Bedhol Pusaka.

Usai upacara, gunungan hasil bumi dari Alun-alun itu akan diarak menuju ke Makam Bung Karno. Lalu, tengah malamnya diadakan kenduri Pancasila di UPT Perpustakaan Proklamator.

“setiap tahun kita peringati hari lahir Pancasila dengan mengadakan acara seperti ini. Kami juga mengadakan tirakatan dengan menggelar kenduri Pancasila. Disitu kita berdoa kepada Tuhan agar Kota Blitar selalu diberi keamanan dan murah rejeki,” tandas Sekda Kota Blitar itu.

Disisi lain, rangkaian itu juga disemarakan dengan pembacaan tembang – tembang macapat, yang dibawakan oleh sanggar – sanggar yang ada di Blitar Raya. Diketahui, dari sanggar Abdi Ningsun, sanggar Kasepuhan dan sanggar Puspa Wijaya.

“Tembang macapat ini menceritakan lahirnya Bung Karno sampai akhir Hayatnya. Dimana tembang itu akan ditembangkan 11 urutan sesuai tembang macapat itu sendiri,” pungkas Heri, dari sanggar Kasepuhan peserta pembaca macapat.(hms)

Artikel ini telah dibaca 135 kali

Baca Lainnya
loading…